Cerita Rakyat Singkat Tentang Bencana Alam

By | November 3, 2022

Cerita Rakyat Singkat Tentang Bencana Alam

dapatkan di setiap daerah tentu ada cerita rakyat ataupun dongeng yang berkaitan dengan bencana alam seperti gempa maupun gunung meletus coba kamu cari dan tuliskan dalam bentuk cerita 3 sampai 4 halaman kemudian diskusikan dari situs web ini.

Beberapa Contoh Dongeng yang Berkaitan dengan Bencana Alam

Walau terlihat menakutkan, menceritakan dongeng yang berkaitan dengan bencana alam sebetulnya baik untuk anak-anak. Dongeng semacam itu bisa bikin anak-anak untuk bisa menghargai alam

Beberapa Contoh Dongeng yang Berkaitan dengan Bencana Alam

Family 2022-02-05

Walau terlihat menakutkan, menceritakan dongeng yang berkaitan dengan bencana alam sebetulnya baik untuk anak-anak. Dongeng semacam itu bisa bikin anak-anak untuk bisa menghargai alam yang ada di sekitar.

Sebab, dengan menghargai alam, manusia pun bisa terhindar dari bencana alam. Dongeng semacam itu juga bisa mengajarkan anak-anak tentang nilai kehidupan lainnya.Semisal jangan serakah terhadap harta, serta tidak boleh menghina orang lain.

Di artikel ini, kami bakal tampilkan beberapa contoh dongeng yang berkaitan dengan bencana alam. Siapa tahu bisa menjadi referensi bagi Sahabat yang mau membacakan dongeng untuk anak-anak Sahabat. Beberapa referensi tersebut adalah sebagai berikut!

Dongeng Gunung Lokon

Referensi dongeng pertama adalah Legenda Gunung Lokon. Dongeng dari tanah Minahasa ini bercerita tentang seorang pemuda bernama Makawalang yang tinggal di Gunung Lokon.

Suatu hari, dia diusir dari Gunung Lokon oleh sepasang suami istri bernama Pinontoan dan Ambilingan. Mereka mengusir Makawalang karena merasa lebih layak tinggal di gunung lokon.

Maka pergilah Makawalang dari Gunung Lokon dengan hati yang sedih. Singkat cerita, Makawalang menemukan sebuah gua yang kelak menjadi tempat tinggalnya yang baru.

Makawalang pun akhirnya tinggal di bagian terdalam gua tersebut. Selama tinggal di sana, Makawalang menancapkan sejumlah tiang besar penyangga tanah. Hal itu dilakukan agar bumi tidak runtuh dan menimpanya.

Makawalang pun juga ditemani kawanan babi hutan selama tinggal di gua tersebut. Sayangnya, babi-babi tersebut sering menggosok-gosokan badan mereka ke tiang-tiang penyangga. Apa yang mereka lakukan itu menimbulkan gempa bumi yang terjadi di seluruh penjuru bumi. Termasuk di gua tempat Makawalang tinggal, serta di Gunung Lokon.

Agar gempa bumi bisa terhenti, Makawalang dan semua warga yang terkena gempa pun mengusir para kawanan babi. Salah satunya dengan memukul tong tong dan meneriakkan kalimat “wangko! tambah hebat lagi”.

Dongeng Rawa Pening

Referensi dongeng selanjutnya adalah Rawa Pening. Dongeng asal Jawa Tengah ini berkisah tentang seorang ksatria yang dikutuk penyihir akibat sifat iri hatinya kepada sang penyihir.

Suatu hari, sang ksatria itu bermimpi bahwa dia akan menemukan seorang wanita yang dapat melepaskan kutukannya. Dan untuk menemukan wanita tersebut, sang ksatria harus berkelana ke sejumlah tempat.

Maka berkelanalah sang ksatria ke sejumlah tempat. Salah satunya adalah sebuah daerah yang diisi oleh orang kaya. Di sana, sang ksatria dihina oleh orang-orang karena kutukan yang mengenainya.

Karena kesal, sang ksatria pun menancapkan sebuah lidi di salah satu sudut daerah tersebut. Lidi tersebut kemudian dilepaskan dan mengeluarkan air dalam jumlah banyak.Akibatnya, air tersebut menenggelamkan semua warga di sana. Kelak, daerah yang pernah disambangi sang ksatria tersebut akan dikenal sebagai Rawa Pening.

Dongeng Situ Bagendit

Referensi dongeng yang terakhir adalah Situ Bagendit. Dongeng asal Garut ini berkisah tentang seorang wanita yang kaya raya. Sayangnya, wanita tersebut punya sifat pelit dan selalu menumpuk harta bendanya.

Dia tak pernah mau menyumbangkan hartanya pada orang lain. Sekalipun orang lain sangat membutuhkannya. Akibat sifat buruknya tersebut, semesta pun memberikannya hukuman berupa musibah banjir bandang.

Banjir tersebut berhasil menenggelamkan sang wanita beserta harta bendanya. Kelak, tempat tenggelamnya sang wanita tersebut akan dikenal sebagai Situ Bagendit.

Baca juga : Referensi Dongeng Sebelum Tidur yang Cocok untuk Anak Usia 1 – 7 Tahun

Itulah beberapa referensi dongeng yang berkaitan dengan bencana alam. Semoga bisa menjadi referensi untuk Sahabat yang mau membacakan dongeng soal bencana alam kepada anak-anak Sahabat.

Penulis : Anggie Warsito

Baca Juga :   Harga Alat Pemotong Kentang

Tag Family Share This

sumber :
daihatsu.co.id

di setiap daerah tentu ada ceria rakyat ataupun do…

di setiap daerah tentu ada ceria rakyat ataupun dongeng yang berkaitan dengan bencana alam seperti gempa maupun gunung meletus. coba kamu cari dan tuliskan dalam bentuk cerita 3-4 halaman

Nur F 30 Juli 2022 14:00 Pertanyaan

di setiap daerah tentu ada ceria rakyat ataupun dongeng yang berkaitan dengan bencana alam seperti gempa maupun gunung meletus. coba kamu cari dan tuliskan dalam bentuk cerita 3-4 halaman

201 0

Belum ada jawaban 🤔

Ayo, jadi yang pertama menjawab pertanyaan ini!

Belum menemukan jawaban?

Tanya soalmu ke Forum atau langsung diskusikan dengan tutor roboguru plus, yuk

Tanya ke Forum

Pertanyaan serupa

Teks Kritik Novel “Hujan” Darwis atau yang lebih dikenal dengan nama pena Tere Liye, lahir di Lahat, Indonesia, 21 Mei 1 979 adalah seorang penulis novel Indonesia. Beberapa karyanya yang pernah diadaptasi ke layar Iebar yaitu Hafalan Shalat Delisa dan Bidadari-Bidadari Surga. Meskipun dia bisa meraih keberhasilan dalam dunia literasi Indonesia, kegiatan menulis cerita sekadar menjadi hobi karena sehari-hari ia masih bekerja kantoran sebagai akunta:n. Salah satu karyanya yaitu Hujan yang terbit tahun 2016. Novel ini menceritakan tentang seorang gadis bernama Lai l. Seorang gadis keci l yang kehilangan kedua orang tuanya akibat bencana gunung meletus yang menyebabkan gempa yang luar biasa kuatnya. Lail dan ibunya sedang naik·kereta bawah tanah dan saat gempa Lail sempat selamat karena dibantu seorang lelaki tetapi ibunya tidak dan akhimya terjebak di lorong bawah tanah. Lelaki itu bernama Esok. Ia dan Esok masuk di pengungsian dan belajar di sana. Waktu demi waktu berlalu hingga mereka menemukan jati diri mereka masing-masing sampai tiba di mana waktunya hubungan mereka. diuji dengan kepercayaan. Lail yang ingin melupakan Esok dan Esok yang meminta maaf karena selalu menutupi dirinya sendiri. Hingga mereka akhirnya bisa memiliki kehidupan yang indah. Novel ini memiliki alur campuran yang menggabungkan dua latar waktu. Hal itu membuat pembaca harus sedikit teliti dalam membacanya agar memahami isi dari novel ini. Setiap gambaran suasana dalam novel ini bisa membuat pembaca terbawa suasana yang dibuat dan bisa merasakan apa yang terjadi di dalam novel. Tere Liye menggambarkan tokoh Lail seperti beberapa orang di masyarakat. Ia menggambarkan Lail yang mengalami fase terberatnya bisa ia lewati dan hidupnya bisa bahagia. Novel ini menyisipkan banyak sekali quotes menarik yang bisa menjadi pesan moral untuk para pembaca. Apalagi banyaknya plot twist yang disisipkan di novel ini membuat kita tidak akan bosan dalam membacanya. Tere Liye menyisipkan banyak sekali pesan moral dalam novel ini. Salah satu pesan penting dari novel ini adala:h “Cara terbaik menghadapi masa lalu adalah dengan berdamai dengan masa lalumu karena itu adalah hidupmu dan dari situlah dirimu berasal”. Sumber: www.kompasiana.com Bercerita tentang apakah novel yang diulas dalam kutipan tersebut?

55 0.0

Jawaban terverifikasi

Esai Membaca Kembali Prosa Kita Oleh: Alex R. Nainggolan Sebuah prosa adalah dunia yang dipenuhi imajinasi. Meskipun terkadang ada realitas yang membayanginya. Sebuah cerita yang baik selalu mengundang rasa penasaran yang teramat dalam, menggali setiap lubuk keingintahuan yang tak habisnya. Merangkaikan semacam getar, dalam aura bunyi, dengan selubung alur, mungkin pula tokoh ketika dibaca. Aktivitas yang mencoba menepikan diri sendiri dari berbagai hiruk-pikuk dunia. Jeda pembacaan yang menandakan sebuah untaian kalimat begitu menggoda untuk dikuliti sampai habis. Apakah prosa kita memang semacam itu? Betulkah kita sudah memiliki karya prosa yang benar-benar “besar”?—meminjam ucapan Hudan Hidayat. Kegelisahan ini barangkali beralasan. Seperti semangat menggebu yang terjadi di dalam dunia puisi, ketika sejumlah kritikus, pengamat, para petualang sastra dengan hasrat yang maksimal kepingin mencari (menemukan?) puisi yang besar. Apakah betul, prosa yang hadir dan lahir di koran, majalah, juga jurnal—adalah prosa yang besar dalam arti sebesar-besarnya. Untuk itu, saya merasa harus mengetuk pintu kepada para penulis prosa. Dengan mengutip sebuah sajak dari Joko Pinurbo. Ketika kita berhadapan dengan sebuah teks, barangkali kita harus pandai mengarifi teks tersebut. 1. Jangan sok pintar dan sok tahu. Jangan belum-belum sudah bilang: ah, kalau cuma begini aku juga mampu. 2. Jangan cepat merasa bodoh kalau tidak juga paham apa maunya buku. Apa yang tak kaupahami suatu saat toh akan membukakan diri. 3. Jangan terlalu lugu. Tahu kan batas antara lugu dan dungu sering tidak jelas-jelas amat? Kau bisa saja mengganti kata-kata dalam buku dengan kata-katamu. 4. Jangan sok fi lsuf: membaca buku sambil mengernyitkan dahi dan mengerutkan mata, apalagi pakai ketok-ketok jidat segala. Santai saja, supaya tidak penat. Kalau penat, kata-kata yang kau baca tidak akan bebas menari-nari dalam otakmu (Sajak “Buku”, Telepon Genggam, 2003). Memang, sampai sekarang, penafsiran seseorang terhadap teks sastra secara umum berbeda-beda. Hal semacam ini juga diakui Radhar Panca Dahana, “Jika penilaian 10 pembaca terhadap sebuah karya berbeda-beda. Hal itu tak masalah. Kesemuanya benar.” Namun, setidaknya perkembangan prosa kita memang terus akan bergejolak. Konsep sastra memang mengikuti konsep ilmu sosial lainnya. Selalu berkembang menurut keadaan zaman. Prosa yang ditulis oleh Hamsad Rangkuti, Martin Aleida, misalnya—memang berbeda dengan prosa yang ditulis Danarto. Itu baru dari pengarang yang satu generasi. Bagaimana dengan yang lain generasi, semacam Agus Noor dengan Seno Gumira Ajidarma? Yang jelas, pergumulan kreatif akan terus berlangsung, sepanjang si pengarang terus melakukan eksplorasi. ada tarikan keinginan di kalangan pengarang, untuk menjadi titik sentral dalam menuliskan prosa. Sebab bangunan prosa sendiri, nyaris seperti puisi. Pernyataan yang dikeluarkan Seno, tentang “pembocoran terhadap fakta” bukanlah rumus yang baku dalam menulis prosa. Pun dengan eksplorasi bagian tubuh yang dikembangkan Djenar, bukan merupakan rumus an sich dalam menuliskan prosa. Dan masih banyak prosais lain yang selalu membuat kepincut ketika membaca sejumlah karya mereka, Joni Ariadinata, Hudan Hidayat, Chairil Gibran Ramadhan, Nukila Amal, Ayu Utami, Kurnia Effendi, Puthut EA, Satmoko Budi Santoso, Raudal Tanjung Banua. Walhasil, perjuangan pengarang prosa saat ini jadi kian berat. Halnya sama dengan bidang puisi. Ketika bahasa sudah dieksplorasi habis oleh pendahulu sebelumnya. Maka, pengarang yang ada saat ini harus melakukan perjuangan kreatif dua kali lipat. Artinya, selain harus menemukan gaya penceritaan baru, mereka juga harus melawan klise dalam diri sendiri. Demikian pula dengan peran media massa dalam hal mensosialisasikan gagasan baru, sungguh teramat besar. Media dalam hal ini apa pun, baik yang terbit di kampus, daerah, atau berskala besar— secara langsung ataupun tidak telah mampu membentuk opini publik pembacanya. Katakanlah, sekali terbit—berapa pasang mata yang akan membacanya? Namun prosa-prosa klise yang pernah disindir Triyanto Triwikromo, sebenarnya merupakan sebuah untaian proses pula. Dan, tidak dapat dinaifkan bila media massa. membentuknya menjadi lebih “seragam”. Untuk itu saya harus terpulang lagi pada kalimat yang pernah ditulis Budiarto Danujaya, dalam kata Penutup Cerpen Pilihan Kompas, “Media massa kenal genealogi, tetapi tidak ingatan.” Hal ini berlaku juga pada rubrik-rubrik yang ada di media massa. Pendekatan dalam Prosa Jika sebuah prosa tak lagi berbeda dengan puisi, lalu di mana lagi esensi (keasyikan) menulis cerita? Penyamaran realitas yang terkurung dalam suatu tradisi merupakan sebuah wacana yang terus bergulir. Koran, dengan publik setia pembacanya—tentu mulai menyeragamkan anggapan ini. Sebuah cerpen yang terdapat dalam koran Minggu, misalnya, lebih mendekati pada realitas yang terjadi di masyarakat. Radhar Panca Dahana, menulis sebuah ulasan tentang keegoisan kita menamai dengan cepat sebuah kotak-kotak sastra, menjadi bidang cerpen, esai, ataupun sajak sekalipun. Padahal, kesemuanya terkadang menipu, dengan permainan kata-kata, yang hampir sama bentuk, bunyi, dan isi. Ini yang perlu dijelaskan, maka saya terpaksa harus kembali pada Sutardji Calzoum Bachri, dalam sebuah ulasannya tentang beda prosa dan sajak. Kesemuanya tergantung niat pengarangnya. Pengotakan yang dilakukan orang, mungkin hanya sebuah tafsir keliru. Mengenai prosa sendiri, dengan mengaca pada tata kerjanya. Terlihat betapa banyak eksplorasi yang dilakukan, meski terkadang gayanya seragam. Maka patut dipertanyakan kepada para pengarang cerpen, adakah konsep yang mapan dibuat dalam bengkel kerja kreatif—atau katakanlah, dalam membuat sebuah cerita? Tampaknya, kekhawatiran Nirwan Dewanto mulai mendekati dunia prosa kita, di mana hal yang sama juga dikeluhkan oleh Triyanto Triwikromo. Ketika cerpencerpen yang beratus itu, dikumpulkan, maka yang terlihat adalah kesamaan tipografi kalimat. Umumnya, gejala latah inilah yang menghinggapi para cerpenis. Klise, kesamaan bentuk—ketika dua buah cerpen dipersandingkan dengan dua pengarang yang berbeda yang tampak hanyalah kesemuan. Unsur-unsur pembentuk dalam merangkaikan kalimat saling tindih, mengeliminasi, sehingga menciptakan kabut cerita yang amat rentan. Sebuah persoalan yang menjadi tanggung jawab kita bersama. Padahal, kita begitu merindukan sebuah kehadiran cerpen yang mampu menyerap tenaga pembaca—sehingga ketika membaca, tidak lagi menjadi sebuah tissue yang dibuang ke tong sampah. Proses dalam dunia cerpen masih panjang, ibarat sebuah perjalanan yang sampai muara, kita masih kerap terkecoh. Miskinnya pembelajaran di kalangan cerpenis membuat sebuah bangunan cerita ambruk dengan seketika. Memang, konsep karya sastra tak pernah bisa dipisahkan dengan kenyataan sekeliling yang membentuk seseorang penulis cerita. Padahal, saya masih sering merasakan sebuah keajaiban ketika membaca hikayat 1001 Malam, yang sampai sekarang tak pernah lekang itu. Atau ketika mengulang kembali rangkaian hikayat yang disodorkan oleh Multatuli dalam Max Havelaar. Betulkah prosa kita telah sedemikian dekat dengan kejadian sehari-hari? Goenawan Mohamad, dalam kata penutup di buku kumpulan cerpen pilihan Kompas, pernah menyinggung ihwal sulitnya seorang penulis cerita mengungkapkan gagasannya dalam rangkaian kalimat yang menarik. Sebuah artefak kalimat yang tidak lagi verbal, bermain-main namun serius, meminjam ucapan Hasif. Sehingga kita sesungguhnya telah kehilangan eksplorasi untuk memindahkan sebuah ruang ide. Meski acap didapati sepotong peristiwa yang getir, menyentak perasaan— tetapi mengapa tak pernah sampai ketika dituangkan dalam gaya naratif? Padahal dunia puisi yang kita miliki mulai menunjukkan ke arah sana. Dengan sajak-sajak lirik yang masih bertahan sejak Hamzah Fansuri. Artinya, gaya lirik tak pernah hilang dalam gaya penulisan kita. Sebab hal itulah yang lebih mudah dipahami, ditelaah oleh publik luas. Mungkin kita bisa memulainya dari sana. Barangkali. Kritik Salju dan Surat Ayah Oleh: Joni Ariadinata Bolehkah menulis sebuah tempat, yang letaknya jauh dari kita? Sebuah negeri yang keindahannya ditandai oleh guguran salju, matahari redup, serta orang-orang yang selalu berjalan bergegas untuk menghindari hawa dingin? Tentu saja boleh. Imajinasi memungkinkan seorang penulis bisa menulis apa saja bahkan sebuah dunia yang berada jauh di luar dirinya. Kali ini sahabat kita dari SMA Bekasi, Larasati Novia Andini, mengisahkan tentang kerinduan seorang anak terhadap ayahnya yang tengah bertugas menjaga perbatasan, di sebuah tempat yang dipenuhi salju, la menulis sebuah cerpen yang mengharukan dengan judul */ Mss You, Dady”. Tidak disebutkan di mana negeri tempat ceriteranya itu berlangsung, tapi pembaca bisa membayangkan sebuah kota kecil yang indah dan sunyi, dengan gedung-gedung kaku, dan sebuah kedai roti di mana orang-orang bisa saling bertemu. Mungkin sebuah tempat di salah satu negara di Eropa. Seorang gadis kecil, tokoh utama dalam kisah ini, yakni Savanah, terlihat bergegas memasuki toko roti. Mirip adegan sebuah film, ia menyapa pemilik toko roti bernama Pak Galian. “Aku mau pesan coklat panas dan dua kue coklat dengan blueberry di atasnya untuk dibawa pulang,” begitulah kata Savanah, menyapa Pak Galian yang tidak lain adalah sahabat baik ayahnya dan ia menyebutnya dengan inisial GG. “Roti buatanmu paling enak, GG,” kata Savanah. Pak GG kemudian bertanya tentang ayah Savanah, yang dijawab bahwa ayahnya tengah bertugas entah di mana, menjaga perbatasan negara. “Oh, berarti kau tidak akan merayakan buka puasa pertamamu denganya?” begitu tanya Pak GG. Pembaca yang budiman, dari kutipan dialog itu kita tahu, bahwa pembukaan latar yang indah dengan guguran salju, yang menjadi penanda bahwa tempat itu berada di sebuah negeri dengan empat musim, ternyata terjadi pada awal bulan Ramadan. Baiklah, bulan Ramadan memang bisa terjadi di mana saja, termasuk di negeri-negeri yang memiliki empat musim. Tapi benarkah di negeri-negeri dengan empat musim, selalu terdengar suara azan berkumandang menjelang Maghrib tiba? Mari kita kutip paparan penulis mengenai hal ini: “Aku rindu ayah. Sedang apa ayah di sana? Aku iri dengan orang-orang lain yang bisa berkumpul lengkap dengan keluarganya, menunggu azan berkumandang di depan perapian daji_ kemudian berbuka puasa bersama.” Bukankah paparan ini sangat khas dan akrab dengan suasana Indonesia? Ada suara azan berkumandang menjelang Maghrib, lebih-lebih pada saat Ramadan dimana semua peneras surau dan masjid berbunyi serentak, bahkan juga televisi dan radio. Kemudian setiap keluarga berkumpul di meja makan, sebagai bagian paling berbahagia dari ritual berbuka bersama seluruh anggota keluarga. Baiklah, mungkin yang dimaksud penulis adalah “penanda azan”.. Nah, kalau itu penanda azan, maka metafor penandanya bisa diperhalus sehingga kesan “rasa Indonesianya” bisa dihilangkan. Misalnya dengan mengubah kalimat paparan itu dengan: “Aku rindu ayah. Sedang apa ayah di sana? Aku iri dengan orang-orang lain yang bisa setiap saat berkumpul lengkap dengan keluarganya. Lebih-lebih di awal Ramadan, dimana kami sekeluarga berpuasa, dan selalu menunggu Maghrib pertama tiba, untuk berbuka puasa bersama-sama.” Kemudian, pada dialog dengan Pak GG, yang menanyakan keberadaan ayahnya dan berkata, “Oh, berarti kau tidak akan merayakan buka puasa pertamamu denganya?” juga bisa diperhalus, karena pembaca yang pintar pasti tahu, bahwa hanya di Indonesia orang lain bisa peduli dengan agama yang dianut oleh kenalannya. Kecerobohan kecil akan menjadi besar dalam sebuah karya sastra. Maka boleh-boleh saja seorang penulis menulis tentang latar yang jauh di luar dirinya, akan tetapi harus betul-betul cermat agar tidak terjadi kecerobohan yang akan menurunkan kualitas karyanya. A.Buatlah ikhtisar dari keritik dan esai tersebut B. tuliskan tokoh penokohan kedua teks

Baca Juga :   Fungsi Benang Sari Pada Bunga Mawar

sumber :
roboguru.ruangguru.com

Di setiap daerah tentu ada cerita rakyat atau pun dongeng yang berkaitan dengan bencana alam

Di setiap daerah tentu ada cerita rakyat atau pun dongeng yang berkaitan dengan bencana alam seperti gempa maupun gunung meletus. Coba kamu cari dan – 11580341

Di setiap daerah tentu ada cerita rakyat atau pun dongeng yang berkaitan dengan bencana alam – Brainly.co.id

sumber :
brainly.co.id

Cerita Rakyat Singkat Tentang Bencana Alam

Source: https://nesia.ir/post/di-setiap-daerah-tentu-ada.p15574