Home  »  Ragam   »   Ular Sendok Klasifikasi Yang Lebih Rendah

Ular Sendok Klasifikasi Yang Lebih Rendah

By | November 3, 2022

Ular Sendok Klasifikasi Yang Lebih Rendah

Search in Center of Studies
Previous  (
Ular-lumpur Kapuas
)
(
Ulat bambu
)  Next

Ular-sendok jawa

Ular-sendok Jawa

Ular sendok jawa,
Naja sputatrix

Rawagembol, Prembun, Tambak, Banyumas

Status konservasi

Status iucn3.1 LC.svg

Risiko Rendah (IUCN 3.1)[1]

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Reptilia
Ordo: Squamata
Famili: Elapidae
Genus:
Naja

Spesies:

N. sputatrix


Nama binomial


Naja sputatrix



(F. Boie, 1827)[2]
Agihan Naja sputatrix

Agihan
Naja sputatrix

Sinonim
  • Naja leptocoryphaea
    Berthold 1842
  • Naia tripudians
    var.
    sputatrix
    Boulenger 1896
  • Naja naja sputatrix
    Stejneger 1907
  • Naja tripudians sputatrix
    de Rooij 1917
  • Naja kaouthia sputatrix
    Deraniyagala 1960
    (part)


Sumber: The Reptile Database.

[3]


Ular sendok jawa
atau
kobra jawa
(
Naja sputatrix
) merupakan sejenis ular bermampu anggota suku Elapidae. Ular ini menyebar terbatas di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Dalam bahasa Inggris ia dikenal sebagai
Javan Spitting Cobra,
Indonesian Cobra, atau
Equatorial Spitting Cobra.

Daftar pokok

  • 1
    Etimologi
  • 2
    Deskripsi
  • 3
    Agihan
  • 4
    Habitat dan ekologi
  • 5
    Konservasi
  • 6
    Catatan kaki

Etimologi

Naja sputatrix
pertama kali dipertelakan secara ilmiah pada tahun 1827 oleh Friedrich Boie, seorang pakar hewan bangsa Jerman. Nama marganya,
Naja, merupakan Latinisasi dari perkataan Sanskerta

nāgá

(नाग), yang berarti naga atau ular. Sementara epitet spesifiknya,
sputatrix, merupakan bentuk feminin dari
sputator, bahasa Latin yang berarti ‘peludah’ atau ‘penyembur’.

Deskripsi

Spesimen dari Darmaga, Bogor

Bentuk kepala. Spesimen yang mati terbunuh

Sisi bawah tubuh

Dengan leher mengembang

Ular bertubuh sedang hingga lebih kurang luhur, kekar, dapat mencapai panjang 1,85 m (6.1 kaki), namun biasanya hanya semakin kurang 1,3 m (4.3 kaki) saja. Tubuhnya hampir bulat torak, namun acap memipih datar di anggota muka; anggota di semakin kurang leher dapat dilebarkan serupa tudung apabila merasa terancam. Bentuk kepalanya lebih kurang jorong, sedikit bertambah luhur dari lehernya; dengan moncong tumpul membulat dan lubang hidung luhur. Matanya mempunyai ukuran sedang, dengan orang-orangan mata (pupil) bundar. Sisik-sisik dorsal (punggung) halus tak berlunas, pada umumnya dalam 25 – 19(21) – 15 deret.[4]

Baca Juga :   Alat Alat Untuk Membuat Animasi 2d

Pola-pola warnanya sangat bervariasi. Spesimen dari Jawa berwarna kehitaman, kecokelatan, atau kekuningan; dengan ular muda (yuwana) kerap kali dengan pita dan bercak-bercak lateral di semakin kurang tenggorokan. Pada umumnya tidak berada pola gambar di belakang tudungnya, namun jika berada, pola itu sedikit jumlah mirip bentuk-V.[5]
[6]

Agihan

Ular-sendok jawa tercatat menyebar di pulau-pulau Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Komodo, Flores, Lomblen, dan Alor. Probabilitas juga di pulau-pulau semakin kurangnya. Catatan dari Timor dan Sulawesi sedang perlu diverifikasi. Walaupun terdapat satu spesimen
Naja sputatrix
dari Sulawesi, spesimen tersebut diduga ular lepasan yang berasal dari Jawa, karena tidak terbedakan dari spesimen asal Jawa.[7]
[8]

Di Jawa, kelimpahan ular ini bervariasi dari satu tempat ke tempat lain.[8]

Habitat dan ekologi

Kobra jawa umumnya dijumpai di sekeliling yang terkait hutan hujan tropika, namun ular ini mampu beradaptasi dengan sangat elok pada pelbagai variasi habitat, termasuk pada wilayah-wilayah yang bertambah kering[4], hutan tanah kering dan lahan-lahan pertanian[7]. Di Pulau Komodo, ular sendok ini hidup di sabana yang kering dan hutan gugur daun tropika[8].

Naja sputatrix
bersifat sangat defensif dan lekas menyemburkan mampunya apabila merasa terganggu. Ular ini hidup di atas tanah (terestrial) dan aktif di malam hari (nokturnal). Mangsa utamanya merupakan mamalia kecil seperti tikus, namun ia pun tak keberatan bagi menangkap kodok, ular lain[4], dan juga kadal bagi kebutuhan hidupnya.

Musim kawin berlangsung di ketika kemarau, selang Agustus hingga Oktober. Ular betina bertelur di semakin kurang November hingga awal musim hujan, meletak sebanyak 13-19 butir telur.[7]
Menurut Kopstein, telur-telur ini akan menetas setelah 88 hari.[8]
Anak-anak ular hidup mandiri sejak menetas dari telur.

Baca Juga :   Negara Asia Tenggara Yang Tidak Memiliki Laut

Konservasi

Naja sputatrix
tercantum dalam Apendiks II CITES; yang berarti bahwa spesies ini ketika ini belum terancam kepunahan, namun akan terbahayakan populasinya apabila perdagangannya tidak dikendalikan dengan akrab. Ular ini memang jumlah ditangkap dan diperdagangkan bagi kulitnya, dan kadang-kadang juga bagi dijadikan hewan timangan (pet).[9]
Di beberapa kota di Jawa, ular ini juga dijual bagi darahnya (dan dagingnya) yang dimanfaatkan sebagai obat.

Catatan kaki

  1. ^

    D. Iskandar, M. Auliya, R. F. Inger & R. Lilley (2012). “Naja sputatrix“.
    IUCN Red List of Threatened Species. Version 2013.1. International Union for Conservation of Nature. Diakses July 5, 2013.




  2. ^

    Boie, F.. 1827.
    Bemerkungen über Merrem’s Versuch eines Systems der Amphibien.
    Isis von Oken
    20: 557. Jena.
  3. ^
    The Reptile Database:
    Naja sputatrix
    BOIE, 1827; diakses 29/06/2014
  4. ^
    a
    b
    c

    “Naja sputatrix: General Details, Taxonomy and Biology, Venom, Clinical Effects, Treatment, First Aid, Antivenoms”.
    WCH Clinical Toxinology Resource. University of Adelaide. Diakses 22 December 2011.




  5. ^

    Wüster, Wolfgang (1992). “A century of confusion: Asiatic cobras revisited”.
    The Vivarium
    4
    (1): 14–18.




  6. ^

    Wüster, Wolfgang. “The Asiatic Cobra Systematics Page”.
    Asiatic Cobras. Bangor University. Diakses 22 December 2011.




  7. ^
    a
    b
    c

    O’Shea, Mark (2005).
    Venomous Snakes of the World. United Kingdom: New Holland Publishers. hlm. 94. ISBN 0-691-12436-1.




  8. ^
    a
    b
    c
    d

    “Naja species”.
    Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora. http://www.cites.org. Diakses 28 December 2011.




  9. ^

    “CITES species database”.
    CITES. http://www.unep-wcmc-apps.org. Diakses 28 December 2011.





edunitas.com

Baca Juga :   Apa Nama Pakaian Adat Sumatera Barat

Tags (tagged): ular, sendok jawa, unkris, 1827 2, agihan, naja sputatrix sinonim, naja leptocoryphaea, mengembang, ular bertubuh sedang, hingga agak, besar, kekar, terdapat satu, spesimen naja, sputatrix, dari sulawesi, kopstein, telur telur, akan, menetas setelah 88, hari 8, center, of studies 22, december 2011, w, ster wolfgang 1992, a century, of, confusion ular sendok, jawa, studies, ular sendok, jawa unkris, sendok

Ular Sendok Klasifikasi Yang Lebih Rendah

Source: https://p2k.unkris.ac.id/en3/2-3073-2962/Ular-Sendok-Jawa_123479_p2k-unkris.html