Untuk Menghasilkan Warna Merah Pada Minuman Bir Pletok Digunakan

By | November 3, 2022

Untuk Menghasilkan Warna Merah Pada Minuman Bir Pletok Digunakan


* Bir pletok, minuman sehat khas masyarakat Betawi.

Jakarta,
Obsessionnews

– Jika ada pertanyaan, sudah pernah minum bir yang halal, apa jawaban Anda? Sebagian dari Anda bisa jadi malah balik bertanya, apa benar ada bir jenis itu? Bukannya semua bir itu haram diminum?

Pertanyaan itu umumnya berasal dari orang yang baru datang ke Jakarta. Atau, bisa jadi ditanyakan oleh orang yang sudah menetap lama di Jakarta, tapi gagal paham soal ragam kuliner di ibu kota Indonesia ini.

Nyatanya, bir yang dijamin kehalalannya memang ada. Dan minuman tersebut oleh masyarakat Betawi disebut dengan nama Bir Pletok. Lho, kok bisa? Begini asal-usulnya.

Kompeni Belanda yang menduduki tanah Betawi, tak hanya membawa misi penjajahan. Tetapi, mereka pun membawa agama baru dan tradisi masyarakat Belanda. Termasuk juga minuman yang salah satunya adalah bir.

Seperti yang ada saat ini, bir merupakan minuman beralkohol yang biasa dikonsumi masyarakat Belanda untuk mengusir dinginnya malam atau merayakan sebuah pesta. Karena minuman itu beralkohol, maka tentu saja menjadi haram untuk dikonsumsi masyarakat Betawi yang muslim.

Masyarakat Betawi memang identik dengan agama Islam. Kita bisa lihat dalam busana tradisional mereka, dimana lelaki Betawi selalu mengenakan sarung dan peci. Dan perempuan Betawi pun identik dengan kerudung dan pakaian yang menutupi auratnya.

Identitas Betawi yang islami tersebut membuat perasaan antipati saat kompeni Belanda masuk ke tanah mereka. Terlebih misi kompeni Belanda adalah untuk menjajah tanah Betawi, seperti yang mereka lakukan di belahan Nusantara lainnya.

Di sisi lain, masyarakat Betawi juga kerap melihat para penjajah mengadakan pesta yang di dalamnya pasti terdapat minuman keras atau bir.

Baca Juga :   Apa Yang Di Maksud Dengan Ringkasan

“Masyarakat Betawi banyak menyaksikan orang Belanda berpesta. Mereka ingin pula mencicipi anggur bikinan Belanda. Tapi itu kan minuman keras dan dilarang dalam Islam. Maka mereka kemudian membuat budaya tandingan. Masyarakat Betawi membuat minuman sewarna bir, merah kecokelatan. Tapi tidak ada kandungan alkohol,” jelas ujar JJ Rizal, peneliti budaya Betawi.

Pedagang kerak telor yang biasa mangkal di Setu Babakan. (Foto: setubabakan.wordpress.com)
Pedagang kerak telor yang biasa mangkal di Setu Babakan. (Foto: setubabakan.wordpress.com)

Menurutnya, masyarakat Betawi memang senang menggunakan konsep imitasi. Misalnya, masyarakat Betawi memanggil anjing hampir selalu dengan panggilan ‘Bleki’, meskipun anjing itu berwarna coklat, abu-abu, atau warna lainnya. Padahal ‘Bleki’ itu dari warna
black, hitam. Panggilan ‘Bleki’ oleh masyarakat Betawi identik untuk anjing.

“Sama seperti ini. Yang penting warnanya seperti bir, disebutlah bir,” imbuhnya.

Sementara nama ‘pletok’, konon, diambil dari suara ‘pletok’ yang keluar ketika penutup
wine
dibuka. Nama itulah yang kemudian digunakan masyarakat Betawi untuk melengkapi nama minuman racikannya.

Namanya juga imitasi, momen penggunaan bir pletok pun mirip-mirip bir ala Belanda. Jika bir beralkohol dikonsumsi saat pesta orang-orang Belanda atau bule, bir pletok biasanya dijumpai dan disuguhkan saat ada pesta seperti pernikahan atau khitanan.

Tapi itu zaman
baheula. Kini, bir pletok sudah menjadi minuman khas Betawi yang bisa dinikmati kapan saja. Bisa pagi, siang, atau malam. Namun, karena sifatnya yang menghangatkan, bir pletok lebih mantap jika dikonsumsi ketika cuaca dingin.

Warna coklat sedikit merak khas bir pletok sekilas mirip campuran bir dan anggur. Tapi soal rasa, bir pletok tidak sama sekali terasa asam atau pahit apalagi mengandung alkohol. Bir pletok justru manis. Pun tidak ada gigitan soda seperti saat bir biasa menyentuh lidah peminumnya. Karena non alkohol, minuman ini tentu saja tidak memabukkan.

Baca Juga :   Sebutkan Tiga Lautan Besar Yang Mengelilingi Indonesia

Sensasi pertama yang terasa ketika meminum bir pletok adalah rasa hangat. Itu karena bir pletok terbuat dari rempah-rempah seperti jahe dan serai. Campuran lainnya adalah daun pandan yang membuatnya wangi. Jika ingin warnanya lebih merah, saat merebus bir pletok tinggal tambahkan kayu secang. Tambahan cengkih, kayu manis, kapulaga, dan pala juga biasanya dicampurkan saat membuatnya.

Umumnya, bir pletok disajikan dalam keadaan panas. Campuran jahe yang menghangatkan akan lebih terasa nikmat saat diminum dalam keadaan masih panas. Cocoknya, bir pletok panas diminum saat malam atau ketika cuaca dingin.

Tapi, pada perkembangan berikutnya, bir pletok juga biasa disajikan dingin dengan campuran es. Selain terasa sensasi hangatnya, bir pletok dingin juga terasa segar saat diminum di siang hari atau saat cuacana panas.

Nah, Anda tertarik untuk mencobanya? Datang saja ke kedai tradisional Betawi.

Mau lebih spesifik? Anda bisa datang ke Setu Babakan, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Kota Jakarta Selatan.

Di tempat wisata masyarakat Betawi tersebut, Anda bisa dengan mudah menemukan bir pletok dan kuliner Betawi lainnya, seperti kerak telor, dodol, ikan pecak, toge goreng, laksa, soto mie, soto babat, tape uli, dan lainnya. (Fath@imam_fath)

Untuk Menghasilkan Warna Merah Pada Minuman Bir Pletok Digunakan

Source: https://www.obsessionnews.com/anda-tahu-bir-pletok-ini-asal-usulnya/