Cara Mengurangi Kerusakan Ekosistem Laut Di Indonesia

By | November 3, 2022

Cara Mengurangi Kerusakan Ekosistem Laut Di Indonesia

28 Oktober 2022, 20:25:22 – Komunikasi Lingkungan – Hits : 12943 – Posted by admin-uut

Indonesia adalah negara yang terkenal sebagai kepulauan terbesar di dunia. Setidaknya, ada sekitar 17.000 pulau di wilayah Indonesia, namun hanya sekitar 7.000 pulau yang berpenghuni.

Ada dua samudera yang mengapit Indonesia, yaitu samudera hindia dan samudera pasifik.

Di laut Indonesia sendiri terdapat 8.500 spesies ikan, 555 spesies rumput laut, dan 950 spesies biota terumbu karang.

Oleh sebab itu pula Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia (marine mega-biodiversity).

Namun keanekaragaman tersebut dirusak oleh tangan tangan manusia yang tidak bertanggungjawab.

Sebut saja, penggunaan bahan peledak dalam menangkap ikan, limbah hasil industri, pengeboran minyak di lepas pantai, dan juga membuang sampah di sungai yang berikibat sampah tersebut bermuara ke laut lepas.

Jelas hal tersebut selain mencemari juga merusak biota laut. Dampak dari perusakan dan pencemaran ekosistem laut ini dapat berakibat fatal bagi kelestarian di darat bahkan mengancam kelangsungan hidup manusia.

Hal ini jelas bertentangan Pasal 5 Ayat (1) UUPLH yang berbunyi: “Setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat”.

Limbah Plastik

Bisa dikatakan Indonesia berada pada posisi yang sangat rentan terhadap dampak dari kerusakan ekosistem laut.

Pencemaran dan kerusakan ekosistem laut perlu dikendalikan karena dengan adanya pencemaran air laut dapat mengurangi pemanfaatan air tersebut.

Jumlah limbah di Indonesia ini semakin lama kian bertambah dan membesar. Salah satu contoh adalah sampah plastik.

Di Indonesia sampah plastik tidak hanya dijumpai di wilayah darat saja tetapi juga banyak sekali sampah plastik yang menyebar luas ke wilayah lautan Indonesia bahkan luasnya sudah mencapai dua pertiga dari total luas Indonesia.

Baca Juga :   Nama-nama Dataran Rendah Di Pulau Jawa Berdasarkan Peta

Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) mencatat, setiap tahun sedikitnya sebanyak 1,29 juta ton sampah dibuang ke sungai dan bermuara di lautan.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 13.000 plastik mengapung di setiap kilometre persegi di setiap tahunnya.

Fakta yang sangat mengejutkan adalah bahwa Indonesia merupakan negara nomor dua di dunia dengan konsumsi sampah plastik terbanyak di lautan.

Ancaman kerusakan ekosistem laut juga disebabkan oleh banyaknya pencemaran industri, reklamasi pantai, dan pengasaman laut sebagai dampak perubahan iklim.

Banyak orang yang berpikir bahwa dengan melihat luasnya lautan kita Indonesia, maka semua hasil buangan sampah dan sisa-sisa industri dapat di tampung oleh lautan tanpa menimbulkan suatu akibat yang membahayakan.

Dengan makin cepatnya pertumbuhan penduduk di dunia dan makin meningkatnya lingkungan industri mengakibatkan makin banyaknya bahan-bahan yang bersifat racun yang di buang ke lautan dalam jumlah banyak yang menyebabkan sulitnya mengontrol limbah-limbah yang di buang ke dalam laut tersebut.

Air laut merupakan komponen yang berinteraksi dengan lingkungan daratan, di mana buangan limbah dari daratan akan bermuara ke laut lepas.

Polutan Atmosfir

Selain itu, air laut juga sebagai tempat penerimaan polutan (bahan cemar) yang jatuh dari atmosfir.

Limbah yang mengandung polutan tersebut kemudian masuk ke dalam ekosistem perairan pantai dan laut Indonesia.

Sebagian larut dalam air, sebagian lagi tenggelam ke dasar laut dan terkonsentrasi ke sedimen. Sebagian lagi masuk ke dalam jaringan tubuh organisme laut ( fitoplankton, ikan, cumi, udang, cumi-cumi, kerang, rumput laut dll).

Polutan tersebut mengikuti rantai makanan mulai dari fitoplankton sampai ikan predator dan pada akhirnya sampai ke manusia.

Bila polutan ini berada dalam jaringan tubuh organisme laut tersebut dalam konsentrasi yang tinggi, kemudian dijadikan sebagai bahan makanan maka akan berbahaya bagi kesehatan manusia. Karena kesehatan manusia sangat di pengaruhi oleh makanan yang di makan, makanan yang berasal dari daerah yang tercemar kemungkinan besar juga tercemar.

Baca Juga :   Manfaat Kerjasama Asean Di Bidang Pendidikan

Demikian juga dengan makanan laut (seafood) yang berasal dari pantai dan laut yang tercemar juga mengandung bahan polutan yang tinggi.

Oleh karena itu, kita sebagai warga negara yang baik beserta pemerintah berkewajiban untuk melakukan perlindungan dan pengelolan lingkungan hidup kita khususnya menjaga dan melindungi ekosistem laut.

Indonesia merupakan negara maritim terbesar di dunia yang memilki wilayah perairan laut yang sangat luas dibandingkan negara-negara lain yang berada di dunia ini.*

(Danang, dari berbagai sumber)

Cara Mengurangi Kerusakan Ekosistem Laut Di Indonesia

Source: http://p3ejawa.menlhk.go.id/article21-pentingnya-menjaga-ekosistem-laut.html