Sumber Pangan Dalam Usaha Diversifikasi Pangan Adalah Kecuali

By | November 3, 2022

Sumber Pangan Dalam Usaha Diversifikasi Pangan Adalah Kecuali

Analisis Bioekonomi Sumber Daya Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis Linnaeus, 1758) di PPN Palabuhanratu, Provinsi Jawa Barat.

Daftar Isi :

Produksi merupakan hasil tangkapan
ikan
yang didapatkan setiap kegiatan penangkapan yang dilakukan oleh nelayan. Upaya tangkapan merupakan usaha yang dilakukan oleh nelayan untuk melakukan kegiatan penangkapan dalam satu kali keberangkatan kapal sesuai dengan lamanya waktu melaut (trip) nelayan tersebut. Produksi dan upaya tangkapan
ikan
cakalang
(Katsuwonus pelamis) yang tinggi akan mempengaruhi keseimbangan populasi di alam. Salah satu penyebab terjadinya upaya penangkapan yang tinggi yakni permintaan pasar yang tinggi sehingga akan mempengaruhi harga jual
ikan
cakalang. Pendapatan nelayan sekitar sangat bergantung dengan kegiatan penangkapan tersebut, sedangkan kegiatan penangkapan akan berjalan dengan baik apabila modal yang tersedia mencukupi. Dinamika stok
ikan
cakalang
(Katsuwonus pelamis) yang terjadi di suatu perairan laut bergantung kepada besarnya hasil tangkapan (yield) setiap tahunnya. Oleh karenanya diperlukan upaya untuk memelihara kelestarian
sumber
daya
ikan
cakalang
(Katsuwonus pelamis) agar potensi yang dimanfaatkan tidak berlebihan melalui suatu pengelolaan yang didukung oleh informasi data hasil penangkapan dan pengukuran panjang serta bobot
ikan
cakalang
(Katsuwonus pelamis).

Baca lebih lanjut


50 Baca lebih lajut

PENAMBAHAN TEPUNG IKAN CAKALANG SEBAGAI SUMBER PROTEIN PADA PEMBUATAN BUBUR TALAS INSTAN

PENAMBAHAN TEPUNG IKAN CAKALANG SEBAGAI SUMBER PROTEIN PADA PEMBUATAN BUBUR TALAS INSTAN

Diversifikasi pangan merupakan upaya memperluas pilihan masyarakat dalam kegiatan konsumsi terutama untuk bahan pangan pokok yang berbasis
sumber
daya
lokal. Potensi talas sebagai
sumber
pangan lokal diharapkan dapat menjadi
sumber
penyediaan bahan pangan karbohidrat non beras, diversifikasi konsumsi pangan lokal, mensubstitusi penggunaan tepung terigu, dan pengembangan industri pengolahan makanan. Talas merupakan pangan yang mengandung karbohidrat tinggi yang kurang termanfaatkan. Kandungan karbohidrat talas berkisar antara 70-80% sehingga umbi talas dapat digunakan sebagai
sumber
karbohidrat pendarnping beras (Melia et al., 2010).

Baca lebih lanjut


6 Baca lebih lajut

DAYA SAING EKSPOR IKAN TUNA-CAKALANG-TONGKOL INDONESIA DI PASAR AMERIKA SERIKAT

DAYA SAING EKSPOR IKAN TUNA-CAKALANG-TONGKOL INDONESIA DI PASAR AMERIKA SERIKAT

JPHPI 2022, Volume 24 Nomor 2 Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 229
Daya
saing ekspor
ikan
tuna-cakalang-tongkol, Hartanto et al. sama yaitu dua puluh tahun terakhir (2000- 2022).
Sumber
data perdagangan yang digunakan meliputi data ekspor dan impor berasal dari UN Comtrade. Data makro yaitu pendapatan per kapita dan nilai tukar riil diambil dari laman World Bank, sedangkan data-data terkait dengan model gravitasi seperti jarak diambil dari laman CEPII (Centre d’Etudes Prospectives et d’Informations


9 Baca lebih lajut

BIOLOGI REPRODUKSI IKAN CAKALANG Katsuwo

BIOLOGI REPRODUKSI IKAN CAKALANG Katsuwo

Salah satu aspek untuk mendukung upaya pengelolaan
sumber
daya
ikan
adalah pengetahuan dasar mengenai aspek biologi reproduksi. Penelitian tentang biologi reproduksi
ikan
dapat memberi data dan informasi penting mengenai frekuensi pemijahan, keberhasilan pemijahan, lama pemijahan dan ukuran
ikan
ketika pertama kali mencapai kematangan gonad (Mardlijah & Patria, 2012). Penentuan tingkat kematangan gonad selain menggambarkan siklus reproduksi, juga berkaitan dengan pendugaan umur atau ukuran
ikan
mencapai matang gonad dan waktu pemijahan (Abidin, 1986). Pengamatan melalui analisis histologi banyak digunakan untuk mengetahui biologi reproduksi pada
ikan
tuna dan metode ini memberikan hasil yang akurat tentang status reproduksi
ikan
tuna (Schaefer, 2001).

Baca lebih lanjut


8 Baca lebih lajut

TUGAS EKSPLORASI SUMBER DAYA LAUT IKAN L

TUGAS EKSPLORASI SUMBER DAYA LAUT IKAN L

berukuran terbesar, panjang tubuhnya bisa mencapai 1 m dengan berat lebih dari 18 kg.
Cakalang
yang banyak tertangkap berukuran panjang sekitar 50 cm. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai skipjack tuna. Gerombolan
ikan
cakalang. Tubuh berbentuk memanjang dan agak bulat, dengan dua sirip punggung yang terpisah. Sirip punggung pertama terdiri dari 14-16 jari-jari tajam. Sirip punggung kedua yang terdiri dari 14-15 jari-jari lunak. Sirip dubur berjumlah 14-15 jari-jari. Bagian punggung berwarna biru keungu-unguan hingga gelap. Bagian perut dan bagian bawah berwarna keperakan, dengan 4 hingga 6 garis-garis berwarna hitam yang memanjang di samping badan. Badan tidak memiliki sisik kecuali pada bagian barut badan (corselet) dan garis lateral.
Cakalang
dikenal sebagai perenang cepat di laut zona pelagik.
Ikan
ini umum dijumpai di laut tropis dan subtropis di Samudra Hindia, Samudra Pasifik, dan Samudra Atlantik.
Cakalang
tidak ditemukan di utara Laut Tengah. Hidup bergerombol dalam kawanan berjumlah besar (hingga 50 ribu ekor
ikan). Makanan mereka berupa
ikan, crustacea, cephalopoda, dan moluska.

Baca Juga :   Tuliskan Kekayaan Terumbu Karang Di Indonesia

Baca lebih lanjut


14 Baca lebih lajut

Kajian Pengembangan Wilayah Pulau-Pulau Kecil Di Kabupaten Halmahera Utara (Tinjauan terhadap Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Cakalang)

Kajian Pengembangan Wilayah Pulau-Pulau Kecil Di Kabupaten Halmahera Utara (Tinjauan terhadap Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Cakalang)

penyerapan tenaga kerja, dan orientasi pasar dari komoditas/ sub sektor yang ada di Kepulauan Morotai, yang kemudian dianalisis dengan menggunakan metode deskripsi kualitatif. Berdasarkan data kecamatan dalam angka pada ke tiga kecamatan di Kepulauan Morotai pada tahun 2003, sektor yang mempunyai aktivitas ekonomi wilayah besar di Kepulauan Morotai adalah sektor pertanian dalam arti luas, sektor ini sangat kelihatan peranannya dalam penyerapan tenaga kerja bagi masyarakat yang mendiami Kepulauan Morotai seperti terlihat pada Tabel 17. Kondisi tersebut menunjukan bahwa sektor- sektor lain belum berkembang dengan baik, indikasi penyerapan tenaga kerja yang rendah pada sektor lain selain sektor pertanian menjadi sala satu fakta tersebut. Dalam sektor pertanian, sub sektor yang mempunyai penyerapan tenaga kerja besar adalah sub sektor perkebunan dan sub sektor perikanan. Komoditas yang banyak diusahakan pada Sub sektor perkebunan di Kepulauan Morotai adalah kelapa (kelapa dalam), komoditas ini diusahakan dengan pola perkebunan rakyat. Sedangkan komoditas pada sub sektor perikanan yang banyak diusahakan oleh nelayan di Kepulauan Morotai adalah
ikan
cakalang, rumput laut dan keramba apung kerapu hidup. Namun nelayan di Kepulauan Morotai umumnya memiliki peralatan masih tradisional dengan armada penangkapan yang berukuran kecil sampai dengan sedang. Selain itu kendala modal usaha juga menjadi masalah klasik yang masih dihadapi oleh nelayan di Kepulauan Morotai.

Baca lebih lanjut


370 Baca lebih lajut

Kajian Pengembangan Wilayah Pulau Pulau Kecil Di Kabupaten Halmahera Utara (Tinjauan terhadap Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Cakalang)

Kajian Pengembangan Wilayah Pulau Pulau Kecil Di Kabupaten Halmahera Utara (Tinjauan terhadap Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Cakalang)

Kelembagaan yang memanfaatakan
sumber
daya
perikanan
cakalang
di wilayah pulau-pulau kecil perbatasan antar negara harus dapat mengakomodir tiga kepentingan besar, yaitu kepentingan ekonomi, ekologi, dan keamanan. Untuk kepentingan ekonomi kelembagaan perikanan
cakalang
harus dapat mengembangkan usaha perikanan ke arah pengembangan sektor sekunder dan tersier, dengan upaya pemberdayaan ekonomi lokal, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah serta dapat membuka akses pasar domestik, pasar antar pulau dan pasar ekspor. Kemudian juga dapat memberikan dukungan keuangan (modal) yang kuat terutama bagi nelayan lokal di kepulauan Morotai, sehingga surplus ekonomi dapat dinikmati oleh pengusaha lokal di Kepulauan Morotai dan sekaligus dapat menekan tingkat kebocoran ekonomi wilayah. Mengingat karakteristik pulau-pulau kecil yang rentan terhadap kerusakan sumberdaya alam, maka kelembagaan perikanannya harus bisa menjaga keseimbangan antara pemenuhan kegiatan produksi dan kelestarian sumberdaya alam. Sedangkan untuk kepentingan keamanan, kelembagaan perikanan
cakalang
harus dapat mengawasi sekaligus mengurangi kegiatan pencurian
ikan
(illegal fishing) baik oleh nelayan asing maupun domestik yang tidak memiliki izin. Untuk itu maka bentuk kerjasama regional dan internasional tentang pengembangan dan pemanfaatan
sumber
daya
perikanan
cakalang
di Kepulauan Morotai mestinya digalakan.

Baca lebih lanjut


186 Baca lebih lajut

KAJIAN PENGEMBANGAN WILAYAH PULAU-PULAU KECIL DI KABUPATEN HALMAHERA UTARA (TINJAUAN TERHADAP PENGELOLAAN SUMBER DAYA PERIKANAN CAKALANG)

KAJIAN PENGEMBANGAN WILAYAH PULAU-PULAU KECIL DI KABUPATEN HALMAHERA UTARA (TINJAUAN TERHADAP PENGELOLAAN SUMBER DAYA PERIKANAN CAKALANG)

Kelembagaan yang memanfaatakan
sumber
daya
perikanan
cakalang
di wilayah pulau-pulau kecil perbatasan antar negara harus dapat mengakomodir tiga kepentingan besar, yaitu kepentingan ekonomi, ekologi, dan keamanan. Untuk kepentingan ekonomi kelembagaan perikanan
cakalang
harus dapat mengembangkan usaha perikanan ke arah pengembangan sektor sekunder dan tersier, dengan upaya pemberdayaan ekonomi lokal, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah serta dapat membuka akses pasar domestik, pasar antar pulau dan pasar ekspor. Kemudian juga dapat memberikan dukungan keuangan (modal) yang kuat terutama bagi nelayan lokal di kepulauan Morotai, sehingga surplus ekonomi dapat dinikmati oleh pengusaha lokal di Kepulauan Morotai dan sekaligus dapat menekan tingkat kebocoran ekonomi wilayah. Mengingat karakteristik pulau-pulau kecil yang rentan terhadap kerusakan sumberdaya alam, maka kelembagaan perikanannya harus bisa menjaga keseimbangan antara pemenuhan kegiatan produksi dan kelestarian sumberdaya alam. Sedangkan untuk kepentingan keamanan, kelembagaan perikanan
cakalang
harus dapat mengawasi sekaligus mengurangi kegiatan pencurian
ikan
(illegal fishing) baik oleh nelayan asing maupun domestik yang tidak memiliki izin. Untuk itu maka bentuk kerjasama regional dan internasional tentang pengembangan dan pemanfaatan
sumber
daya
perikanan
cakalang
di Kepulauan Morotai mestinya digalakan.

Baca lebih lanjut


186 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Rumpon Laut Dalam Sebagai Daerah Penangkapan Ikan Dan Dampaknya Terhadap Keberlanjutan Sumber Daya Ikan

Pemanfaatan Rumpon Laut Dalam Sebagai Daerah Penangkapan Ikan Dan Dampaknya Terhadap Keberlanjutan Sumber Daya Ikan

Proses pelingkaran jaring pukat cincin dilakukan pada saat dini hari sebelum matahari terbit. Keputusan untuk melakukan penebaran jaring sangat tergantung pada banyaknya
ikan
yang terkonsentrasi di bawah lampu dan kondisi kecepatan arus. Sedikitnya jumlah
ikan
yang terkonsentrasi atau kecepatan arus yang terlalu kuat dapat menyebabkan kegiatan penangkapan ditunda hingga keesokan harinya, atau berpindah ke rumpon lainnya. Pukul 04.00 dini hari, jika jumlah
ikan
yang terkonsentrasi di bawah lampu sudah cukup banyak dan arus tidak terlalu kuat, kegiatan pelingkaran jaring akan dimulai. Kapal bergerak melingkar berlawanan arah dengan jarum jam dengan kecepatan 5–7 knot dan mulai menebarkan jaring untuk mengurung gerombolan
ikan. Penebaran jaring dimulai dengan menurunkan pelampung tanda, kemudian dilanjutkan dengan penurunan tali selambar, sayap, badan, kantong dan tali selambar sampai bertemu dengan pelampung tanda dan jaring melingkar sempurna. Tali selambar selanjutnya ditarik hingga bagian sayap dan kantong bertemu. Tali pengerut kemudian mulai ditarik dari kedua sisi secara bersamaan menggunakan bantuan mesin takal (winch) hingga bagian bawah jaring tertutup sempurna. Bagian sayap dan jaring mulai dinaikkan ke atas kapal dengan cara ditarik secara bersamaan hingga hanya menyisakan bagian kantong yang menampung
ikan
hasil tangkapan.
Ikan
yang telah terkurung di bagian kantong diciduk menggunakan tangguk, dinaikkan ke atas kapal dan dimasukkan ke dalam palka yang berisi es. Hasil tangkapan yang diperoleh antara lain layang, tongkol,
cakalang, anakan tuna, sunglir, dan lemadang. Ukuran
ikan
yang tertangkap umumnya di bawah 3 kg.

Baca Juga :   Bagaimana Cara Membuat Topeng Dari Gips Dan Tanah Liat

Baca lebih lanjut


104 Baca lebih lajut

DAYA SAING EKSPOR IKAN TUNA CAKALANG TONGKOL (TCT) INDONESIA DI PASAR AMERIKA SERIKAT TONI RUDI HARTANTO

MODEL EKONOMI PENGELOLAAN SUMBER DAYA CAKALANG DI INDONESIA Economic Model of Skipjack Resource Management in Indonesia

MODEL EKONOMI PENGELOLAAN SUMBER DAYA CAKALANG DI INDONESIA Economic Model of Skipjack Resource Management in Indonesia

dan penurunan produksi
ikan
Cakalang
nasional sebesar 3,26%. Selain itu juga berdasarkan hasil simulasi menunjukkan bahwa kebijakan penurunan kuota penangkapan
ikan
Cakalang
sampai mendekati keseimbangan MEY akan sangat berdampak negatif terhadap penurunan aktivitas unit pengolahan
ikan. Hal ini terkait dengan menurunnya pasokan bahan baku
ikan
Cakalang
untuk kebutuhan unit pengolahan
ikan. Oleh sebab itu diperlukan strategi untuk mengantisipasi kelangkaan bahan baku
Cakalang
untuk industri pengolahan
ikan
nasional.

Baca lebih lanjut


14 Baca lebih lajut

2 TINJAUAN PUSTAKA. Ikan cakalang (sumber : http//

2 TINJAUAN PUSTAKA. Ikan cakalang (sumber : http//

Ikan
cakalang
menyebar luas diseluruh perairan tropis dan sub tropis pada lautan Atlantik, Hindia dan Pasifik, kecuali laut Mediterania. Penyebaran ini dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu penyebaran horizontal atau penyebaran menurut letak geografis perairan dan penyebaran vertikal atau penyebaran menurut kedalaman perairan. Penyebaran Tuna dan
Cakalang
sering mengikuti penyebaran atau sirkulasi arus garis konvergensi diantara arus dingin dan arus panas merupakan daerah yang kaya akan organisme dan diduga daerah tersebut merupakan fishing ground yang sangat baik untuk perikanan Tuna dan
Cakalang. Dalam perikanan Tuna dan
Cakalang
pengetahuan tentang sirkulasi arus sangat diperlukan, karena kepadatan populasi pada suatu perairan sangat berhubungan dengan arus-arus tersebut (Nakamura, 1969)

Baca lebih lanjut


11 Baca lebih lajut

2. TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1. Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) Sumber :

2. TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1. Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) Sumber :

2.4. Pola Migrasi
Ikan
Cakalang
Migrasi atau ruaya
ikan
adalah adalah pergerakan perpindahan dari suatu tempat ke tempat yang lain yang mempunyai arti penyesuaian terhadap kondisi alam yang menguntungkan untuk eksistensi hidup dan keturunannya.
Ikan
mengadakan migrasi dengan tujuan untuk pemijahan, mencari makanan dan mencari daerah yang cocok untuk kelangsungan hidupnya. Migrasi
ikan
dipengaruhi oleh beberapa faktor baik faktor eksternal dan faktor internal (Reinnamah 2010). Chusing (1968) in Effendie (1997) mengemukakan bahwa studi ruaya
ikan
merupakan hal yang fundamental untuk biologi perikanan, karena dengan mengetahui lingkaran ruaya akan diketahui batas-batas daerah mana stok atau sub populasi itu hidup.

Baca lebih lanjut


11 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ikan Cakalang Ikan Cakalang Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) atau skipjack tuna termasuk salah satu sumberdaya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ikan Cakalang Ikan Cakalang Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) atau skipjack tuna termasuk salah satu sumberdaya

Aneka
ikan
asap yang dijual yaitu olahan jenis
ikan
asap, mulai pari asap,
cakalang
asap, tongkol asap,
ikan
kembung asap dan aneka
ikan
laut lainnya. Menurut media Radar Bromo harga
ikan
asap yang dijual cukup bervariasi mulai dari harga Rp 5.000, sampai harga Rp 50.000 per tusuknya tergantung jenis dan berat ikannya.
Ikan
asap laut yang laris manis dibeli dan paling diminati
ikan
asap laut
cakalang
yang selalu terjual habis hampir setiap harinya. Jalur pantura yang berada di Dusun Parsean ini merupakan salah satu jalur pemudik arah Bali- Surabaya atau sebaliknya dan juga dekat dengan objek wisata Pantai Bentar, sehingga memberi keuntungan bagi para pedagang
ikan
asap yang menjajakan dagangannya.

Baca lebih lanjut


19 Baca lebih lajut

5 BIOLOGI PERIKANAN IKAN CAKALANG

5 BIOLOGI PERIKANAN IKAN CAKALANG

Data biologi
ikan
yang dikumpulkan adalah data panjang dan berat
ikan. Data ini diperoleh dari hasil tangkapan nelayan pole and line pada setiap trip penangkapan yang didaratkan di Pangkalan Pendaratan
Ikan
(PPI) di lokasi penelitian. Data diambil dari 2 buah kapal pada setiap lokasi pendararatan
ikan. Data panjang dan berat
ikan
diukur dari sampel
ikan
yang dipilih secara acak dari tempat penampungan
ikan. Potier dan Sadhotomo (1991) dan Supranto (2007) menyatakan bahwa sampel dapat digunakan untuk menjelaskan suatu populasi yang sebenarnya. Jumlah sampel
ikan
yang diukur panjang dan beratnya adalah sebanyak 25 ekor per trip. Untuk mengetahui apakah sampel merupakan representasi dari populasi maka dilakukan uji satu sampel untuk rata- rata dengan menggunakan uji t (Santoso dan Ashari 2005; Wibisono 2005). Selain data panjang sampel dilakukan pula estimasi terhadap data panjang hasil tangkapan per trip yaitu dengan membagi antara hasil tangkapan per trip dengan 25 (jumlah sampel) dikalikan kisaran panjang yang digunakan untuk analisis parameter pertumbuhan dan struktur ukuran. Pengukuran panjang
ikan
dilakukan dengan menggunakan measuring board dengan ketelitian 0,1 cm. Batas pengukuran panjang dimulai dari ujung mulut sampai ujung bagian dalam ekor (fork length). Berat
ikan
ditimbang dengan menggunakan timbangan pegas dengan kapasitas 21 kg dengan ketelitian 0,1 kg.

Baca Juga :   Sensor Aktif Yang Digunakan Dalam Penginderaan Jauh

Baca lebih lanjut


22 Baca lebih lajut

PENDUGAAN PERTUMBUHAN DAN MORTALITAS IKAN CAKALANG

PENDUGAAN PERTUMBUHAN DAN MORTALITAS IKAN CAKALANG

4.2. Kondisi Umum Perikanan
Cakalang
di PPN Palabuhanratu
Ikan
cakalang
merupakan salah satu hasil tangkapan
ikan
pelagis besar yang dominan dan memiliki nilai ekonomis penting di PPN Palabuhanratu selain
ikan
tuna dan tongkol. Alat tangkap yang digunakan untuk menangkap
ikan
cakalang
yaitu gill net, purse seinne, pancing tonda dan payang. Persentase alat tangkap yang digunakan untuk menangkap
ikan
cakalang
di PPN Palabuhanratu disajikan pada Gambar 4. Pada saat pengambilan contoh selama tiga bulan alat tangkap yang beroperasi adalah pancing tonda dengan bantuan rumpon. Hal ini terkait dengan biaya operasional yang lebih murah menggunakan alat tangkap pancing tonda dibandingkan dengan menggunakan alat tangkap yang lain, selain itu pengoperasian dengan alat tangkap pancing tonda juga relatif lebih mudah dan menghemat waktu.

Baca lebih lanjut


85 Baca lebih lajut

STRATEGI PEMULIHAN SUMBER DAYA IKAN BILI

STRATEGI PEMULIHAN SUMBER DAYA IKAN BILI

sinonim, yaitu Chanda siamensis, Fowler 1937; Ambassis siamensis, Fowler 1937; Chanda punctulata, Fraser-Brunner 1955; Parambassis p u n c t u l a t a, F r a s e r – B r u n n e r 1 9 5 5 d a n Parambassis punctulatus, Fraser-Brunner 1955.
Ikan
ini memiliki panjang standar (SL) maksimum 6 cm dan rata-rata 4 cm SL untuk
ikan
jantan (Froese & Pauly, 2014). Penyebaran
ikan
kaca t e r d a p a t d i A s i a ya n g m e l i p u t i T h a i l a n d , Semenanjung Malaya, Indonesia (Jawa), dan sebagai
ikan
introduksi di Singapura.
Ikan
ini hidup di rawa-rawa dataran rendah dan sungai (Kottelat et al., 1993) serta mampu beradaptasi terhadap ekosistem mengalir maupun tergenang (Otsuka & Iwata, 2011).
Ikan
kaca umumnya digunakan sebagai
ikan
hias. Tubuh
ikan
kaca yang transparan dengan duri yang tajam di bagian sirip punggung, sirip dada dan sirip anal menjadikan
ikan
ini kurang disukai baik sebagai ik an k onsum si m anusia m aupun bagi ik an predator. Berdasarkan informasi nelayan (Sdr. Marbun) di Desa Muara, Kecamatan Bakara, Kabupaten Humbang Hasundutan,
ikan
kaca mulai terdeteksi di muara Sungai Sipangolu, Danau Toba pada awal tahun 2013 dan sampai sekarang belum diketahui asal dan masuknya
ikan
ini (Gambar 2). Sampai April-Juni 2013, Tarigan et al. (2013) belum menemukan
ikan
kaca masuk dalam struktur komunitas
ikan
di Sungai Naborsahan, Danau Toba.

Baca lebih lanjut


7 Baca lebih lajut

Dinamika Populasi Ikan Cakalang Katsuwonus pelamis

Dinamika Populasi Ikan Cakalang Katsuwonus pelamis

Menggunakan bantuan program FISAT-II, diperoleh dugaan L c
ikan
cakalang
di perairan Laut Flores sebesar 20,9 cm (Gambar 4.). Berdasarkan pada persamaan pertumbuhan von Bertalanffy yang diperoleh, umur
ikan
cakalang
pada saat pertama kali tertangkap (L c ) adalah 6 bulan. Nilai dugaan L c di atas menunjukkan bahwa rata-rata ukuran
ikan
yang tertangkap oleh alat yang beroperasi merupakan kelompok
ikanikan
yang masih sangat muda dan belum sempat melakukan pemijahan tahunan. Untuk menjaga ketersediaan stok spesies
ikan
cakalang
di perairan Laut Flores maka diupayakan nilai L c tersebut ditingkatkan agar
ikan
cakalang
yang tertangkap oleh alat tangkap minimal telah melakukan pemijahan dengan ukuran panjang cagak (FL) >42,8 cm (Manik, 2007), >40 cm (Ashida et

Baca lebih lanjut


10 Baca lebih lajut

STUDI PENDUGAAN STOK IKAN CAKALANG Katsu

STUDI PENDUGAAN STOK IKAN CAKALANG Katsu

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dan tingkat pemanfaatan sumberdaya
ikan
Cakalang
yang didaratkan di Kota Sibolga pantai Barat Sumatera Utara. Metoda dalam penelitian ini menggunakan metode survey. Analisa data dilakukan berdasarkan jumlah hasil tangkapan per unit upaya ( Cacth Per Unit Effort ). Dugaan jumlah stok dianalisa dengan metode delury , sedangkan potensi lestari dan tingkat upaya optimum dianalisa menurut Model Surplus Produksi Gulland-Fox . Hasil penelitian analisis regresi menunjukkan bahwa dalam tiga bulan jumlah stok awal (No) sebesar 385,812 ton per bulan dengan potensi lestari (MSY) sebesar 141,932 ton per bulan dan tingkat upaya optimum (F opt ) ± 62 trip.

Baca lebih lanjut


13 Baca lebih lajut

Sumber Pangan Dalam Usaha Diversifikasi Pangan Adalah Kecuali

Source: https://id.123dok.com/title/sumber-daya-ikan-cakalang-munirah-tuli