Lain Padang Lain Belalang in English

By | November 3, 2022

Lain Padang Lain Belalang in English

(Merenung kisah sedih Ustad Abdul Somad di Tanah Merah-Singapura)


Oleh P. Kons Beo, SVD


“Lidah itu sangat kecil dan ringan, tapi bisa mengangkatmu ke derajat paling tinggi dan bisa menjatuhkanmu di derajat paling rendah”
(Imam Al Ghazali, Teolog muslim-Filsuf Persia, 1058-1111.

Kisah Miris di Hari Itu

Rencana liburnya ke Singapura itu gagal total. Ustad Abdul Somad (UAS) sungguh dirundung sedih. Itu tergambar dari raut wajahnya.  Saat  dalam wawancaranya dengan salah satu stasion TV swasta. Kisah ‘tertahannya’ UAS setidaknya telah menggelegar di tanah air.

Senin, 16 Mei 2022 itu Abdul Somad bersama enam pendamping telah tiba di Terminal Feri Tanah Merah Singapura. Sayangnya, UAS mesti tertahan di situ. Otoritas Singapura melalui MHA (Ministry of Home Affairs
– Kemendagri Singapura) memblokir rencana pelesir di Singapura itu. Dan bahkan akhirnya UAS mesti ‘balik pulang hari itu memang.’ Dengan feri yang sama.

Betapa sadisnya Singapura. Tampaknya tak ada halangan teramat sangat seputar dokumen resmi bagi UAS. Semuanya lengkap. Tentu UAS jadi tersentak. Ia tak menyangka akan dapat ‘perlakuan tak mengenakkan’ itu. Singkat kisah, otoritas Singapura tanpa basa-basi harus jelaskan semuanya. Situs resmi Kemendagri Singapura pada 17 Mei 2022.

Sikap Hati, Kata dan Seruan

Dapat ditangkap isi kunci rasionale Pemerintah Singapura. Sulit diterima oleh Pemerintah Singapura kotbah UAS tentang ‘bunuh diri  dalam konteks konflik Israel – Palestina. Kotbah UAS pun acapkali  beraura ekstrem, pun beraroma segregasi yang kental. Tentu akan merepotkan warga Singapura yang pluralistik dalam ras dan agama.

Tak berhenti di situ. Pemerintah Singapura sekian serius tanggapi segala celotehan sakarstik UAS akan komunitas agama lain. “Di salib itu ada jin kafir” dan sekian terangnya tegasan UAS akan “komunitas non-muslim sebagai
kafir”
adalah sinyal amat buruk untuk alam kerukunan dan toleransi di Singapura.

Kini, harga mahal mesti dibayar UAS. Biarlah ia sebatas tertahan di Terminal Feri Tanah Merah untuk tak usah shopping pun beranjangsana di Singapura.

Baca Juga :   Jenis Tumbuhan Seperti Apakah Yang Mampu Tumbuh Di Daerah Sabana

Kisah miris penceramah kondang seperti Abdul Somad tentu membahana. Ada suara yang menyayangkannya serentak membelanya. Fadli Zon, misalnya soroti tindakan Singapura sebagai ‘penghinaan terhadap seorang warga negara Indonesia yang terhormat.’

Fahri Hamzah yang berkomentar jenaka namun pedis untuk Singapura yang dianggap sombong,
“Negara se-Upil aja blagu.”

Yusril Ihza Mahendra nampak kalem untuk meminta Pemerintah Singapura untuk jelaskan tindakannya. Demi tak muncul spekulasi atau salah paham.

Hal senada ini juga disampaikan Anwar Abbas, Wakil Ketua Umum MUI. Pun tetap muncul komentar klasik si Novel Bamukmin, “Ini penghinaan terhadap ulama.”

Tafsiran demi Tafsiran

Ustad Abdul Somad sendiri sudah beri tanggapannya tentang ‘penolakan Singapura’ terhadap dirinya. Setidaknya, bila harus ditafsir, UAS nampak lagi menarik rasa empati publik. Semacamnya ia dan rombongannya telah dizalimi Pemerintah Singapura.

Menyusuri segala postingan di media tentang kisah sedih UAS di Senin, 16 Mei 2022, nampaknya hanya ada ‘tafsiran demi tafsiran.’ Kita masih berdiri di tempat kita berpijak sampil memandang dari sudut pandang sendiri. “Setan, jin kafir, kaum kafir, bunuh diri” mungkin terasa normal keluar dari mulut kita. Tetapi, apakah layak dan sedap di telinga dan hati orang atau kelompok yang disasar?

UAS dengan segala ceramahnya tetap piawai, anggun dan ‘harum semerbak’ di kuping para pendengar dan junjungan setianya. Tetapi, sekali lagi, apakah pihak lain, terutama kelompok yang berdampak langsung, terpaksa atau dipaksa mesti menerima begitu saja? Tetapi, sudahlah! Kelompok ‘salib dan yang tersalib, yang dicap kafir’ tetap punya kekuatan untuk ‘melihat semuanya dalam doa, kasih dan pengampunan.’

Singapura Punya Kedaulatan Sendiri

Tetapi, apakah itu berlaku juga untuk entitas sekular seperti Singapura sebagai satu negara berdaulat? Rasanya di sini, UAS sepertnya harus terbentur pada satu karma politik yang berakar pada ceramah agama darinya.

Sikap pemerintah Singapura jelas dan tegas. UAS mesti ‘dipaksa pulang.’ Kita hanya sebatas berspekulasi ‘mengapa UAS dihadang dan dipulangkan’ itu tentu hanya dari garis pantai pemikiran punya kita sendiri.

Baca Juga :   Identifikasikan Perbedaan Antara Cuaca Dan Iklim

Maka, berdirilah juga kita  di ‘alam hati dan pemikiran Singapura.’ Dan, yakinlah bahwa pemerintah negeri mungil itu lagi ‘tak sombong
blagu.’ Ia sungguh mau bertanggung jawab atas kedamaian dan keteduhan hidup warganya dalam satu sikap preventif yang elegan. Pertalian relasi antar warga yang multi etnik dan multi agama sekiranya tak boleh terpolusi oleh
kata-kata, ucapan-ucapan
yang hanya ‘bikin onar saja.’

Dan Ustad Abdul Somad persis berada pada ‘jalan yang dianggap berbahaya.’ Ini semua agar jangan sampai berpengaruh minor pada warga Singapura. Mungkin hiperbolik dan tendensius untuk berilusi sekiranya muncul kata-kata pemerintah Singapura,
“Saudara UAS, silahkan kembali saja ke tanah airmu. Kami, Singapura, masih terlalu lemah dan tak kuat hati untuk menerima kehadiranmu. Iya, bila teringat ceramah-ceramah ekstrimmu itu…”

Salahkah Singapura bila ia memang harus berantisipasi agar ‘jangan sampai rakyatnya terganggu?’ Kita tak menyangkal bahwa Abdul Somad adalah ustad terkenal. Ia punya pengaruh luas.  UAS telah menimbah ilmu hingga ke Al-Azhar-Mesir meraih S1, bergelar S2 dari Institut Darul-Hadits Al Hassania-Maroko  hingga gelar S3 di Universitas Islam Umdurman – Sudan.

Sayangnya, oleh Pemerintah Singapura, bila harus ditafsir, wawasannya dan terutama hatinya tak seluas dan selebar dunia tempat ia menuntut ilmu.

Semoga Tidak Melebar

Dari kisah sedih di Singapura, UAS pasti sudah punya
feeling
atas kisah-kisah semirip sebelumnya. Bukankah ia pernah ditolak dan perlakuan serupa di Hongkong, Timor Leste, Belanda, Jerman dan Inggris dengan alasan-alasan semirip pula? Satu tantangan yang tak kecil untuk orang ‘sebesar dan sekelas’ Ustad Abdul Somad.

Tetapi, ada hal yang bisa saja lebih berbumbu sana-sini. Sebab Indonesia umumnya kreatif dan produktif untuk lebarkan soal. Itu sekiranya ‘kisah sedih UAS mulai diseret-seret’ ke ranah politik. Politisasi kasus bukan barang baru, dan malah tak dianggap tabu. Apakah sebentar lagi Kedubes RI di Singapura dianggap tak melindungi dan memperjuangkan warganya?

Baca Juga :   Disebut Apakah Musik Orkes Daerah Betawi Jelaskan

Mungkinkah akan muncul ulasan rangkaian konflik segala lini antara RI dan Singapura, dan imbasnya orang setenar UAS mesti menjadi tumbal atau korbannya? Atau, seperti biasanya, pemerintah dan terutama Presiden Jokowi akan dipersalahkan karena kurang tahu berdiplomasi demi warganya yang terhormat? Dan ujung-ujungnya segera ada demo
turunkan Jokowi?

Rupa-rupanya demo atau gerakan di Kedubes Singapura atau demo turunkan Jokowi terlalu ‘mengada-ada.’ Tetapi, siapa tahu saja terjadi. Sebab bagi para bohir atau pemakai jasa demo, peluang sekecil apapun bisa dimanfaatkan.

Sekiranya Dapat Berbenah

Tetapi, bila Singapura ditilik dengan hati sejuk, maka tidak adakah sebuah ‘blessing in disguise’ di balik kisah Terminal Feri Tanah Merah itu? Kaum ulama, ustad, kaum rohaniwan, para klerus, para pendeta, para biksu, para religius bisa tergerus dalam peristiwa-peritiwa ‘salah kata-salah ucap, salah sikap dan perlu laku.’

Sepantasnya inilah momen bagi siapapun dipanggil untuk berbenah dalam segalanya. Banyak doa dan harapan agar Ustad Abdul Somad dan siapapun yang serupanya bisa masuk dalam aura dan sikap ‘tengoklah ke dalam sebelum bicara.’ Sebab, kedaulatan dan kehormatan kata-kata itu terletak pula pada ‘telinga dan hati orang yang menangkapnya.’

Akhirnya..

Ini benar-benar “Lain Indonesia, lain Singapura; menang kata di tanah sendiri, mati kutu di tanah orang.” Kita tak serta merta bebas merdeka masuk di tanah orang. Pun masuk dalam hati sesama kita.

Sebab, sehebat apa pun kita, pihak lain tetap punya syarat yang mesti dipenuhi. Dan di situlah menjadi nyata bahwa kerendahan hati selalu unggul dari kesombongan kata dan sikap.

Dan bagi Ustad Abdul Somad dan bagi kita, dari negeri Singapura sebenarnya datang seberkas cahaya terang. Menyinari hidup semua. Sebab  “Ini bukan hukuman. Hanya satu isyarat. Bahwa kita mesti banyak berbenah….

Verbo Dei Amorem Spiranti


Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Roma

Lain Padang Lain Belalang in English

Source: https://kabarntt.co/lain-padang-lain-belalang-lain-lubuk-lain-ikannya/